PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER BAGI SISWA DI ERA MILENIAL
NAMA :Nurissinta Fadhilah
NIM :17051043
PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER BAGI SISWA DI ERA MILENIAL
Kenapa Pendidikan Karakter sangat diperlukan pada generasi milenial? Mari kita simak berikut ini .
Akhir-akhir ini generasi kita banyak diperbincangkan, mulai dari segi pendidikan, moral, etika, dan budaya. Semua itu karena generasi kita sangat jauh berbeda dari generasi generasi yang sebelumnya. Yaitu generasi para senior-senior kita. Dan tampaknya mereka mulai kerepotan menghadapi serbuan kita para Millenials. Sejalan dengan itu banyak fakta atau mitos yang beredar tentang generasi milenial, tidak semuanya benar dan tidak sepenuhnya salah. Selain mitos, generasi yang lebih tua sering memberi cap para milenial dengan kata malas.
Generasi milenial memiliki karakteristik yang khas, kita lahir di zaman TV sudah berwarna, kemudian sudah muncul handphone, sudah muncul Laptop dan bahkan ada internet untuk mengakses apa yang kita inginkan. Yang dulu hanya handphone SMS dan telpon, sekarang berkembang menjadi handphone yang canggih. Semua gejala-gejala kekinian yang taka da habis-habisnya membuat generasi orang terdahulu kebingungan cara mengikutinya.
Dari situlah terkadang hal Negatif muncul yang dilahirkan oleh generasi Milenial ini. Generasi ini cenderung mementingkan kebanggaan diri sendiri, tetapi cuek akan keadaan sosial. Contohnya saja dalam sehari hari kita kuliah kalau bosan pengen ke Kantin, beli makanan, minuman yang serba apalah itu, nongkrong di kafe, ngopi bareng, makan bareng. Padahal terkadang ada juga uang jajan kita minta pada orang tua, cuek aja yang penting Gaya. Yang penting pengikutnya banyak tak peduli siapapun dalam susah maupun senang.
Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini bisa dikatakan kian kompleks. Kenapa begitu? Karena kemudahan akses informasi yang ditopang internet dan media sosial ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi bisa menumbuhkan iklim kreatif dan semakin luasnya pengetahuan, tapi di sisis lain, berpotensi menyebabkan dekadensi moral dan spiritual.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya, dan bagaimana cara menerapkan pendidikan karakter untuk generasi milenial ini?
Melihat berbagai ancaman yang mungkin bisa terjadi, orang tua harus membekali anak-anak mereka untuk bisa bersaing dalam dunia nyata. Maka dari itu, orang tua harus mengetahui pentingnya pendidikan karakter bagi anak. Karena, pendidikan pertama kali yang didapatkan oleh anak adalah dalam keluarga dan diberikan oleh orang tua. Untuk itu, orang tua harus merencanakan masa depan anak dengan sebaik mungkin.
Seiring berjalannya waktu, generasi muda saat ini justru lebih mudah terpengaruh oleh arus globalisasi yang melunturkan perilaku-perilaku kebangsaan mereka padahal ilmu yang diberikan baik di sekolah maupun di kampus tergolong semakin berat dan mulai bersaing dengan ilmu yang berada diluar sana. Harusnya, ada keseimbangan diantara keduanya maka akan diperoleh generasi muda cerdas dan bermartabat yang siap memajukan bangsa.
Peran orang tua dan guru sebagai pengawas dan pengarah agar genererasi muda atau yang sering disebut generasi milenial menggunakan internet sebagaimana mestinya saja belum cukup. Lebih dari itu, dibutuhkan revitalisasi elemen-elemen pendidikan yang mampu menangkal dan menyaring pengaruh buruk yang berpontensi masuk ke dalam diri generasi muda (milenial).
Dalam era ini pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam perwujudan manusia berkualitas, namun realitanya, pelaksanaan pendidikan karakter tak segampang yang diucapkan. Agar terealisasi pendidikan berbasis karakter, sudah tentu bukan saja tanggung jawab berbagai pihak, terutama lembaga pemerintahan memalui lembaga pendidikan Formal.
Dengan pertimbangan dalam rangka mewujudkan bangsa yang berbudaya melalui penguatan nilai-nilai religius , jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertangnggung jawab, pemerintah memandang perlu penguatan pendidikan karakter.
Jadi, pendidikan karakter harus tertanam dalam berbagai level kehidupan. Bukan hanya dari lembaga pemerintahan, lembaga pendidikan dan keluarga. Tetapi peran masyarakat sekitar juga sangat penting sebagai wadah untuk menerapkan pendidikan karakter.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui proses pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah.
Ada beberapa elemen elemen yang bisa kita gunakan sebagai cara untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi siswa ataupun mahasiswa pada generasi muda, antara lain :
Penguatan Pendidikan Karakter
Menurut John W. Santrock “Pendidikan karakter merupakan pendekatan langsung untuk pendidikan moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dalam konteks ini tentu pendidikan karakter sangat penting. Misalnya internet, mengingat internet adalah belantara yang liar, dimana konten-konten informasi yang positif dan negative bercampur menjadi satu. Hanya fondasi moral yang kuat di dalam diri, dalam arti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk itulah yang bisa menjamin masa depan generasi muda atau genererasi milenial ini tetap Cerah.
Revitalisasi Pengetahuan Humaniora
Pengetahuan yang berhubungan dengan budaya, kemanusiaan, dan nilai-nilai spiritual ini bisa dianggap kalah pamor di kalangan generasi muda Bangsa. Banyak yang lebih menyukai pengetahuan eksakta dan teknis yang bisa mengarahkan mereka ke hal-hal praktis serta menghasilkan skill untuk bekerja. Akan tetapi, jika generasi ini mengabaikan pengetahuan budaya, kemanusiaan dan Religi, mereka akan mudah terpengaruh budaya dari luar.
Seperti kata BJ. Habibie, yang dikutip dari Republika.co.id (08/08/2016), ada tiga hal penting dalam pendidikan, yaitu agama, budaya dan ilmu pengetahuan yang disertai pengalaman teknologi. Ketiganya harus berjalan sinergis, karena jika satu saja tidak ada, maka potensi tergerusnya rasa cinta terhadap budaya bangsa dan hilangnya empati sosial akan kian membesar.
Optimalisasi Teknologi
Kemajuan sebuah bangsa sering diukur dengan seberapa canggih bangsa tersebut, baik itu dalam mengadopsi maupun mencipta sebuah teknologi. Dalam hal ini sebut saja Jerman, Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok yang merupakan bangsa-bangsa penemu teknologi canggih. Seakan-akan menciptakan sesuatu yang baru atau inovasi mendarah daging di dalam diri masyarakatnya.
Karena itu, agar generasi muda ini bisa bersaing dan berkontribusi besar, sudah semestinya pengetahuan teknologi yang terkait perkembangan teknologi terkini menjadi kurikulum tersendiri di sekolah. Tujuannya, untuk membangun generasi muda yang thecy, berjiwa invention dan inovatif.
Oleh karena itu, dalam mendidik budaya dan karakter Bangsa harus dikembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak dan fisik.
Dalam hal ini, pengajar baik guru maupun dosen merupakan fasilitator yang memiliki peran untuk membimbing peserta didik hingga mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya, serta mengembangkan proses untuk berbgi pengetahuan dengan sekitar sehingga ilmu yang diserap dapat diterapkan pada orang lain dan lingkungan sekitar.
Lebih pentingnya lagi apabila dalam penerapannya juga dilakukan penhayatan nilai-nilai menjadi kepribadian dalam bergaul di lingkunag Masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Tentunya, juga dapat dilakukan penerapan metode-metode yang dapat merarik perhatian orang lain dan lingkungan untuk ikut berpatisipasi dalam pengembangan karakter bangsa yang religius, nasionalis dan kreatif.
Demikian yang dapat saya sampaikan tentang pentingnya pendidikan karakter bagi siswa pada generasi milenial ini. Semoga bermanfaat.
NIM :17051043
PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER BAGI SISWA DI ERA MILENIAL
Kenapa Pendidikan Karakter sangat diperlukan pada generasi milenial? Mari kita simak berikut ini .
Akhir-akhir ini generasi kita banyak diperbincangkan, mulai dari segi pendidikan, moral, etika, dan budaya. Semua itu karena generasi kita sangat jauh berbeda dari generasi generasi yang sebelumnya. Yaitu generasi para senior-senior kita. Dan tampaknya mereka mulai kerepotan menghadapi serbuan kita para Millenials. Sejalan dengan itu banyak fakta atau mitos yang beredar tentang generasi milenial, tidak semuanya benar dan tidak sepenuhnya salah. Selain mitos, generasi yang lebih tua sering memberi cap para milenial dengan kata malas.
Generasi milenial memiliki karakteristik yang khas, kita lahir di zaman TV sudah berwarna, kemudian sudah muncul handphone, sudah muncul Laptop dan bahkan ada internet untuk mengakses apa yang kita inginkan. Yang dulu hanya handphone SMS dan telpon, sekarang berkembang menjadi handphone yang canggih. Semua gejala-gejala kekinian yang taka da habis-habisnya membuat generasi orang terdahulu kebingungan cara mengikutinya.
Dari situlah terkadang hal Negatif muncul yang dilahirkan oleh generasi Milenial ini. Generasi ini cenderung mementingkan kebanggaan diri sendiri, tetapi cuek akan keadaan sosial. Contohnya saja dalam sehari hari kita kuliah kalau bosan pengen ke Kantin, beli makanan, minuman yang serba apalah itu, nongkrong di kafe, ngopi bareng, makan bareng. Padahal terkadang ada juga uang jajan kita minta pada orang tua, cuek aja yang penting Gaya. Yang penting pengikutnya banyak tak peduli siapapun dalam susah maupun senang.
Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini bisa dikatakan kian kompleks. Kenapa begitu? Karena kemudahan akses informasi yang ditopang internet dan media sosial ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi bisa menumbuhkan iklim kreatif dan semakin luasnya pengetahuan, tapi di sisis lain, berpotensi menyebabkan dekadensi moral dan spiritual.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya, dan bagaimana cara menerapkan pendidikan karakter untuk generasi milenial ini?
Melihat berbagai ancaman yang mungkin bisa terjadi, orang tua harus membekali anak-anak mereka untuk bisa bersaing dalam dunia nyata. Maka dari itu, orang tua harus mengetahui pentingnya pendidikan karakter bagi anak. Karena, pendidikan pertama kali yang didapatkan oleh anak adalah dalam keluarga dan diberikan oleh orang tua. Untuk itu, orang tua harus merencanakan masa depan anak dengan sebaik mungkin.
Seiring berjalannya waktu, generasi muda saat ini justru lebih mudah terpengaruh oleh arus globalisasi yang melunturkan perilaku-perilaku kebangsaan mereka padahal ilmu yang diberikan baik di sekolah maupun di kampus tergolong semakin berat dan mulai bersaing dengan ilmu yang berada diluar sana. Harusnya, ada keseimbangan diantara keduanya maka akan diperoleh generasi muda cerdas dan bermartabat yang siap memajukan bangsa.
Peran orang tua dan guru sebagai pengawas dan pengarah agar genererasi muda atau yang sering disebut generasi milenial menggunakan internet sebagaimana mestinya saja belum cukup. Lebih dari itu, dibutuhkan revitalisasi elemen-elemen pendidikan yang mampu menangkal dan menyaring pengaruh buruk yang berpontensi masuk ke dalam diri generasi muda (milenial).
Dalam era ini pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam perwujudan manusia berkualitas, namun realitanya, pelaksanaan pendidikan karakter tak segampang yang diucapkan. Agar terealisasi pendidikan berbasis karakter, sudah tentu bukan saja tanggung jawab berbagai pihak, terutama lembaga pemerintahan memalui lembaga pendidikan Formal.
Dengan pertimbangan dalam rangka mewujudkan bangsa yang berbudaya melalui penguatan nilai-nilai religius , jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertangnggung jawab, pemerintah memandang perlu penguatan pendidikan karakter.
Jadi, pendidikan karakter harus tertanam dalam berbagai level kehidupan. Bukan hanya dari lembaga pemerintahan, lembaga pendidikan dan keluarga. Tetapi peran masyarakat sekitar juga sangat penting sebagai wadah untuk menerapkan pendidikan karakter.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui proses pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah.
Ada beberapa elemen elemen yang bisa kita gunakan sebagai cara untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi siswa ataupun mahasiswa pada generasi muda, antara lain :
Penguatan Pendidikan Karakter
Menurut John W. Santrock “Pendidikan karakter merupakan pendekatan langsung untuk pendidikan moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dalam konteks ini tentu pendidikan karakter sangat penting. Misalnya internet, mengingat internet adalah belantara yang liar, dimana konten-konten informasi yang positif dan negative bercampur menjadi satu. Hanya fondasi moral yang kuat di dalam diri, dalam arti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk itulah yang bisa menjamin masa depan generasi muda atau genererasi milenial ini tetap Cerah.
Revitalisasi Pengetahuan Humaniora
Pengetahuan yang berhubungan dengan budaya, kemanusiaan, dan nilai-nilai spiritual ini bisa dianggap kalah pamor di kalangan generasi muda Bangsa. Banyak yang lebih menyukai pengetahuan eksakta dan teknis yang bisa mengarahkan mereka ke hal-hal praktis serta menghasilkan skill untuk bekerja. Akan tetapi, jika generasi ini mengabaikan pengetahuan budaya, kemanusiaan dan Religi, mereka akan mudah terpengaruh budaya dari luar.
Seperti kata BJ. Habibie, yang dikutip dari Republika.co.id (08/08/2016), ada tiga hal penting dalam pendidikan, yaitu agama, budaya dan ilmu pengetahuan yang disertai pengalaman teknologi. Ketiganya harus berjalan sinergis, karena jika satu saja tidak ada, maka potensi tergerusnya rasa cinta terhadap budaya bangsa dan hilangnya empati sosial akan kian membesar.
Optimalisasi Teknologi
Kemajuan sebuah bangsa sering diukur dengan seberapa canggih bangsa tersebut, baik itu dalam mengadopsi maupun mencipta sebuah teknologi. Dalam hal ini sebut saja Jerman, Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok yang merupakan bangsa-bangsa penemu teknologi canggih. Seakan-akan menciptakan sesuatu yang baru atau inovasi mendarah daging di dalam diri masyarakatnya.
Karena itu, agar generasi muda ini bisa bersaing dan berkontribusi besar, sudah semestinya pengetahuan teknologi yang terkait perkembangan teknologi terkini menjadi kurikulum tersendiri di sekolah. Tujuannya, untuk membangun generasi muda yang thecy, berjiwa invention dan inovatif.
Oleh karena itu, dalam mendidik budaya dan karakter Bangsa harus dikembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak dan fisik.
Dalam hal ini, pengajar baik guru maupun dosen merupakan fasilitator yang memiliki peran untuk membimbing peserta didik hingga mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya, serta mengembangkan proses untuk berbgi pengetahuan dengan sekitar sehingga ilmu yang diserap dapat diterapkan pada orang lain dan lingkungan sekitar.
Lebih pentingnya lagi apabila dalam penerapannya juga dilakukan penhayatan nilai-nilai menjadi kepribadian dalam bergaul di lingkunag Masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Tentunya, juga dapat dilakukan penerapan metode-metode yang dapat merarik perhatian orang lain dan lingkungan untuk ikut berpatisipasi dalam pengembangan karakter bangsa yang religius, nasionalis dan kreatif.
Demikian yang dapat saya sampaikan tentang pentingnya pendidikan karakter bagi siswa pada generasi milenial ini. Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar